Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 7 Oktober 2026 secara hibrida dengan pelaksanaan utama di Universitas Trisakti, Jakarta, serta terhubung secara daring melalui Zoom. Sesi ini mempertemukan akademisi, praktisi, aktivis komunitas, dan perwakilan generasi muda dari Indonesia dan Belanda untuk mendiskusikan hubungan antara pendidikan, keterikatan masyarakat terhadap laut, identitas kawasan pesisir, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dalam sesi tersebut, Prof. Beny menyampaikan perspektif Urban Morphology & Coastal Spatial Policy, khususnya mengenai pentingnya memahami kawasan pesisir bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi sebagai ruang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Struktur permukiman, aksesibilitas, pola aktivitas masyarakat, hubungan dengan waterfront, banjir rob, ruang publik, dan mata pencaharian merupakan bagian yang saling terkait dalam membentuk kualitas hidup masyarakat pesisir.

Pembahasan juga menyoroti kondisi pendidikan di kawasan pesisir Sumatera Utara, termasuk Kampung Nelayan Seberang, Belawan. Dalam Terms of Reference kegiatan dijelaskan adanya pola penurunan partisipasi pendidikan dengan rasio 5:3:1 pada jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, sementara jumlah warga yang melanjutkan ke pendidikan tinggi masih sangat terbatas. Di sisi lain, anak-anak pesisir memiliki keterikatan yang kuat terhadap lingkungan laut, pengetahuan lokal, serta pengalaman ekologis yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam pendidikan formal.

Menurut Prof. Beny, pengembangan pendidikan di kawasan pesisir perlu menghubungkan pengetahuan lokal, pendidikan formal, dan perencanaan spasial. Lingkungan pesisir dapat ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran melalui pendekatan.
place-based learning dan context-responsive education. Fenomena pasang surut, banjir rob, pola permukiman, aktivitas perikanan, transportasi air, ruang publik, hingga budaya masyarakat dapat menjadi bagian dari pembelajaran sains, geografi, lingkungan, perencanaan, arsitektur, dan bidang lainnya.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi partisipatif antara pemerintah, perencana, masyarakat, komunikator, sekolah, dan perguruan tinggi. Pembangunan kawasan pesisir tidak seharusnya hanya dilakukan untuk masyarakat, tetapi dikembangkan bersama masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, intervensi fisik dan kebijakan dapat tetap menghormati identitas lokal sekaligus meningkatkan keamanan, akses pendidikan, kualitas ruang, serta peluang masa depan generasi muda.
Sesi WINNER 2026 ini juga membahas perbandingan konteks Indonesia dan Belanda. Dalam konteks Indonesia, persoalan utama berkaitan dengan kesinambungan pendidikan, keterbatasan akses, kondisi ekonomi, dan rendahnya partisipasi pada pendidikan tinggi. Sementara itu, konteks Belanda menyoroti bagaimana sistem pendidikan yang relatif setara dan terstandar tetap dapat mempertahankan hubungan generasi muda dengan pengetahuan lokal, air, dan identitas kawasan pesisir. Diskusi kemudian diarahkan pada strategi konkret, antara lain pengembangan kurikulum yang responsif terhadap konteks pesisir, penguatan ruang belajar berbasis komunitas seperti Rumah Baca, peningkatan akses terhadap pendidikan tinggi dan pendidikan vokasi, perluasan informasi beasiswa, mentoring, keterlibatan universitas, serta penguatan kepemimpinan pemuda lokal. Terms of Reference kegiatan secara khusus menempatkan pengembangan kerangka kurikulum kontekstual dan community-led learning hubs sebagai salah satu luaran penting sesi.
Kontribusi terhadap SDGs
Keterlibatan Prof. Beny dalam kegiatan ini memiliki keterkaitan langsung dengan beberapa agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang diadopsi Universitas Sumatera Utara dalam kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dokumen USU mencantumkan seluruh 17 tujuan SDGs sebagai rujukan institusional
Kegiatan ini terutama berkontribusi pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui pembahasan akses dan kesinambungan pendidikan bagi anak-anak pesisir; SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, melalui perhatian terhadap kelompok masyarakat pesisir yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan peluang; SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui pendekatan morfologi perkotaan, kualitas ruang, dan kebijakan spasial pesisir; SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, khususnya terkait dampak banjir rob dan ketahanan permukiman; SDG 14: Ekosistem Lautan, melalui penguatan hubungan antara masyarakat, pendidikan, dan lingkungan pesisir; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi akademik dan pertukaran perspektif Indonesia–Belanda.
Keterkaitan dengan Indikator Kinerja Utama
Partisipasi dosen MPWK USU dalam forum internasional ini juga mendukung beberapa Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Kegiatan ini relevan dengan IKU 5: Kemitraan Strategis Berdampak, karena mempertemukan institusi pendidikan, komunitas, dan mitra internasional dalam pembahasan pendidikan dan pengembangan kawasan pesisir. Selain itu, keterlibatan dalam forum WINNER turut mendukung IKU 6: Reputasi Riset dan Akademik Internasional, melalui partisipasi akademisi USU dalam forum pendidikan dan riset Indonesia–Belanda.
Dari sisi pengembangan gagasan, pembahasan mengenai kebijakan spasial, pendidikan kontekstual, dan model intervensi berbasis komunitas juga memiliki relevansi dengan IKU 7: Riset Terapan dan Kebijakan Berdampak serta IKU 8: Dosen Berkegiatan dan Berprestasi di Luar Kampus. Sementara itu, keterlibatan komunitas, generasi muda, dan pemangku kepentingan dalam diskusi juga sejalan dengan IKU 11: Pembelajaran Kolaboratif, Partisipatif, dan Kontribusi Sosial/Kemasyarakatan. Melalui partisipasi dalam WINNER 2026, MPWK Fakultas Teknik USU memperkuat peran akademik dalam menjembatani perencanaan wilayah dan kota, pendidikan, ketahanan komunitas, serta pembangunan pesisir yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya pendekatan perencanaan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kualitas hidup, identitas lokal, kesempatan pendidikan, dan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam menentukan masa depan kawasan tempat mereka hidup.