LUBUK PAKAM – 20 Oktober 2026, Sivitas akademika Fakultas Teknik USU terus memperkuat perannya dalam mendampingi pemerintah daerah merumuskan kebijakan pembangunan berbasis pengetahuan. Melalui kolaborasi keilmuan antara Dr. Anthoni Veery Mardianta, S.T., M.T. dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) dan Dr. Ir. Ar. Achmad Delianur Nasution, S.T., M.T. dari Program Studi Arsitektur, tim akademisi FT USU mendampingi penyusunan dokumen rencana pengembangan Kecamatan Percut Sei Tuan yang berfokus pada mitigasi bencana pesisir dan penataan kawasan prioritas The Coastal Edu-EcoTourism Center.


Acara ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Bappedalitbang Kabupaten Deli Serdang, Sigit Pramulia, S.T., M.Ec.Dev., serta dipimpin oleh Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappedalitbang Kabupaten Deli Serdang, Heriani Sembiring, S.E., M.Eng. Forum strategis dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti Permendagri Nomor 17 Tahun 2016 ini turut dihadiri oleh berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis, mulai dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Dinas Lingkungan Hidup, BPBD, Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga serta Pariwisata, serta OPD lainnya hingga pihak Kecamatan Percut Sei Tuan.


Dalam tinjauan perencanaan wilayah, Dr. Anthoni Veery Mardianta, S.T., M.T. memetakan posisi strategis Percut Sei Tuan sebagai zona transisi perkotaan–pesisir. Namun, wilayah seluas 18.994,16 hektare yang terhubung secara hidrologis dengan DAS Percut, Batang Kuis, dan Deli ini memiliki tantangan drainase alami yang rendah pada 82,6% luas wilayahnya, sehingga rentan terhadap banjir kiriman, rob, dan abrasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, tata ruang makro wilayah dibagi ke dalam Kawasan Lindung seluas 5.364,71 hektare (28,2%) dan Kawasan Budi Daya seluas 13.629,45 hektare (71,8%).


Penataan ini diturunkan ke dalam indikasi program lintas sektor tahun 2027–2036, mencakup pemulihan ekosistem mangrove, perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B), penguatan budidaya perikanan, pengembangan kawasan industri dan regenerasi perkotaan, serta peningkatan konektivitas jalan dan transportasi publik. Dari sisi ketangguhan bencana dan lingkungan, diprogramkan pemasangan menara peringatan dini (Early Warning System) banjir rob dan tsunami di Desa Percut dan Tanjung Rejo, pembangunan tanggul pesisir adaptif, pintu air otomatis, kolam retensi makro, hingga penyediaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan penghalang sampah (trash barrier) di aliran sungai.


Beranjak dari kerangka makro tersebut, pendampingan ini secara khusus menyoroti perancangan objek kawasan prioritas ekowisata pesisir (khususnya koridor Pantai Mangrove Paluh Getah di Desa Percut dan Paluh Merbau di Desa Tanjung Rejo) yang diarahkan oleh Dr. Ir. Ar. Achmad Delianur Nasution, S.T., M.T.

Berlandaskan prinsip Protect, Educate, dan Empower, masterplan objek pesisir ini dibagi ke dalam tiga blok fungsional yaitu :

Blok A difokuskan pada pembangunan Mangrove Tourism Center sebagai pusat orientasi dan edukasi, gerbang kawasan, serta penataan sentra kuliner dan kios UMKM produk pesisir. Kawasan komersial masyarakat ini dirancang dengan pendekatan arsitektur vernakular ringan bermaterial alami yang berpadu dengan jalur pedestrian inklusif dan tata pencahayaan kawasan (streetscape lighting) yang atraktif.

Blok B diarahkan sebagai zona wisata ekologis berdampak rendah (low-impact development) melalui konstruksi jalur boardwalk mangrove dan menara pandang (viewing tower serta bird watching tower) yang adaptif terhadap pasang surut air laut, dermaga wisata, serta jalur sepeda pesisir lintas desa (Inter-Village Coastal Cycling Network).

Blok C ditetapkan sebagai zona konservasi mutlak untuk rehabilitasi bakau dan pembangunan sabuk hijau pesisir (coastal green belt) sebagai pelindung alami dari abrasi.


Pendampingan ini juga membuka ruang kerjasama dan pengabdian yang berkelanjutan bagi LPPM USU sebagai mitra pemerintah daerah dalam mengawal edukasi kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat khususnya siswa SD/SMP se-Kecamatan Percut Sei Tuan, pengembangan area observasi burung migran (Bird Watching), serta perwujudan Mangrove Tourism Center.