LUBUK PAKAM (27/10/2026) – Dinamika pertumbuhan kawasan metropolitan kerap memunculkan paradoks spasial pada wilayah pinggiran kota (peri-urban). Di satu sisi, wilayah penyangga (hinterland) menjadi tumpuan ekspansi ekonomi, perumahan, dan pergerakan komuter; namun di sisi lain, tekanan alih fungsi lahan yang tidak terkendali justru meningkatkan kerentanan ekologis dan risiko bencana hidrometeorologi. Merespons tantangan perkotaan tersebut, akademisi Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT USU) berkolaborasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kabupaten Deli Serdang dalam menyusun dokumen "Kajian Pengembangan Kecamatan Sunggal Berbasis Mitigasi Bencana: Menuju The Urban Buffer & Gateway yang Tangguh".

Pembahasan komprehensif Pengembangan Kecamatan Sunggal Berbasis Mitigasi Bencana: Menuju The Urban Buffer & Gateway yang Tangguh diselenggarakan pada Selasa, 27 Oktober 2026, bertempat di Aula Bappedalitbang Kabupaten Deli Serdang, Lubuk Pakam. Forum ilmiah dan teknokratis ini merupakan tindaklanjut dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2016 ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Bappedalitbang Kabupaten Deli Serdang, serta dipandu oleh staf Bappedalitbang dengan didampingi oleh Camat Sunggal. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang—meliputi Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perhubungan, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi dan UKM, hingga Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Dalam forum tersebut, pemaparan substansi kajian disampaikan oleh dua akademisi FT USU yang memadukan dua dimensi keilmuan spasial secara komplementer, yakni Dr. Anthoni Veery Mardianta, S.T., M.T. dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) yang mengupas struktur tata ruang makro dan mitigasi risiko wilayah, serta Dr. Ir. Ar. Achmad Delianur Nasution, S.T., M.T. dari Program Studi Arsitektur yang menjabarkan masterplan rancang kota (urban design), rekayasa lanskap ekologis, dan identitas arsitektural kawasan.
Dalam pemaparan pembuka, Dr. Anthoni Veery Mardianta, S.T., M.T., menunjukkan posisi strategis Kecamatan Sunggal dalam konstelasi Rencana Tata Ruang (RTR) Kawasan Perkotaan Mebidangro dan RTRW Kabupaten Deli Serdang. Berbatasan langsung dengan bagian barat Kota Medan (Kecamatan Medan Sunggal dan Medan Helvetia) serta Kota Binjai, Kecamatan Sunggal ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi sekaligus simpul pengembangan Transit-Oriented Development (TOD) subkota. Namun, berdasarkan hasil analisis spasial periode 2020–2025, Dr. Anthoni mengungkapkan adanya fenomena perembetan kota secara acak (urban sprawl) yang masif mengikuti koridor jalan utama. Dalam kurun waktu lima tahun tersebut, luas lahan permukiman meningkat sebesar 18,5% dan lahan industri bertambah 23,4%, yang secara langsung mengonversi lahan sawah, perkebunan, serta ruang terbuka hijau.
Secara geomorfologis dan hidrologis, ekspansi kawasan terbangun ini menyimpan risiko besar. Meskipun 95,3% wilayah Sunggal memiliki kemudahan pengerjaan lahan kelas tinggi dengan topografi datar hingga landai (52,4% berkemiringan 0–2%), sebanyak 60,9% wilayahnya justru memiliki kemampuan drainase alami kelas rendah. Padahal, hampir keseluruhan wilayah Kecamatan Sunggal berada di dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Belawan, di mana 99,4% wilayahnya memegang fungsi jasa ekosistem pengatur tata aliran air dan banjir kelas tinggi. Akibat keterbatasan kapasitas drainase dan berkurangnya daerah resapan air, tingkat kerawanan banjir kategori tinggi mencapai 18,7% dari wilayah dan kerentanan terhadap cuaca ekstrem mencapai 93,4%. Untuk mengatasi problematika tersebut, Dr. Anthoni merumuskan tiga orientasi konsep pengembangan wilayah yang terintegrasi :
Sunggal sebagai Urban Buffer: Mengendalikan ekspansi perkotaan secara kompak (compact development) agar Sunggal tidak sekadar menjadi penampung limpahan beban Kota Medan, melainkan mampu menjaga keseimbangan antara kawasan terbangun, lahan pertanian produktif, dan fungsi ekologis.
Sunggal sebagai Gateway: Memperkuat konektivitas regional dan keterpaduan jaringan transportasi antara kawasan permukiman, perdagangan-jasa, dan industri tanpa menimbulkan konflik pemanfaatan ruang maupun kemacetan.
Sunggal sebagai Kawasan Tangguh Bencana: Menjadikan pengurangan risiko banjir dan cuaca ekstrem sebagai prinsip dasar penataan ruang melalui perlindungan DAS Belawan, peningkatan sistem drainase, dan kesiapsiagaan masyarakat.
Secara kuantitatif, arahan spasial Kecamatan Sunggal yang memiliki luas total 8.015,28 hektare distrukturkan ke dalam dua peruntukan utama:
Kawasan Lindung (Protected Area) sebesar 21,2% : Terdiri atas Zona Penyangga Sempadan Sungai Belawan dan Zona Pertanian Berkelanjutan) untuk mempertahankan ketahanan pangan dan fungsi resapan hidrologis.
Kawasan Budi Daya (Development Area) seluas 78,8% : Diarahkan secara terstruktur meliputi zona Urban Regeneration, Integrated Industrial Estate, Urban Expansion Area, Commercial Activity Corridor, Integrated Golf Development di Desa Helvetia, Gateway Area, serta Strategic Transport Corridor.
Melanjutkan kerangka perencanaan makro tersebut, Dr. Ir. Ar. Achmad Delianur Nasution, S.T., M.T., memaparkan transformasi ruang skala mikro melalui Masterplan dan Rencana Implementasi Kawasan Prioritas. Dalam ilmu rancang kota (urban design), Dr. Achmad Delianur membagi pendekatan intervensi spasial ke dalam dua metode, yaitu Penataan Kawasan Blok (Poligon) yang mengatur harmonisasi fungsi kawasan industri, komersial, permukiman, dan ruang terbuka hijau pada Blok Prioritas A (sisi timur) dan Blok Prioritas B (sisi barat), serta Penataan Koridor (Linear) yang berfokus pada revitalisasi Koridor Jalan Medan–Binjai dan Koridor Sungai Belawan.

Pada Koridor Sungai Belawan, pendekatan arsitektur lanskap diintegrasikan dengan rekayasa hidraulika ramah lingkungan. Untuk mengatasi luapan sungai, dirancang pembangunan dan penguatan tanggul pengendali limpasan air menggunakan struktur dinding beton bertulang dan pasangan batu yang diperkuat dengan lapisan geotekstil serta proteksi lereng batu bronjong (ripa) di dasar sungai. Tanggul ini tidak dirancang sebagai tembok masif yang memisahkan warga dari sungai, melainkan diintegrasikan dengan ruang terbuka hijau sempadan sungai selebar 3,00 hingga 5,00 meter yang dilengkapi dengan jalur pejalan kaki sekaligus jalur inspeksi pemeliharaan sungai. Selain normalisasi selektif dan pengerukan sedimen pada titik penyempitan alur sungai, sistem drainase primer dan sekunder di kawasan permukiman juga dilengkapi dengan struktur pintu air otomatis pengendali aliran balik (flap gate backwater system) guna mencegah masuknya air Sungai Belawan ke saluran drainase permukiman saat muka air sungai sedang pasang tinggi.

Sementara itu, pada Koridor Jalan Medan–Binjai, Dr. Achmad Delianur merancang revitalisasi badan jalan (right of way) untuk mengubah wajah koridor yang semula semrawut, minim pohon peneduh, dan tidak ramah pejalan kaki menjadi boulevard perkotaan yang ikonik, inklusif, dan produktif. Gagasan utama penataan koridor ini bertumpu pada empat pilar desain:
Identitas Lanskap Pohon Tabebuya Merah: Penanaman deretan pohon Tabebuya Merah di sepanjang median dan tepi jalan sebagai signature landscape yang membentuk karakter visual koridor yang teduh, estetis, dan mudah dikenali.
Jalur Pedestrian Terintegrasi Berstandar Aksesibilitas Universal: Pelebaran trotoar menjadi 3,0 hingga 4,0 meter dengan perkerasan berkualitas yang kontinu, dilengkapi guiding block selebar 0,3 meter dan ramp di setiap sudut penyeberangan bagi penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak. Penampang jalan ini juga mengadopsi prinsip infrastruktur hijau melalui penyediaan jalur vegetasi peneduh (1,0–2,0 meter) dan saluran drainase ramah lingkungan berupa bioswale (0,5–1,0 meter) di tepi badan jalan.
Ornamen Street Furniture Tematik Melayu : Untuk mengakar pada kearifan lokal, elemen perabot jalan (street furniture) seperti lampu jalan modern hemat energi, bangku pejalan kaki, planter box, tempat sampah terpilah, bollard pengaman, rak sepeda, papan penunjuk arah (wayfinding signage), hingga halte transportasi publik dirancang secara khusus dengan memadukan ornamen khas budaya Melayu .
Aktivasi Ekonomi melalui Booth UMKM Modular dan Penataan Fasad Komersial: Pada segmen pejalan kaki yang lebar, disediakan ruang bagi booth UMKM modular yang tertata rapi sebagai generator ekonomi lokal. Selain itu, diberlakukan panduan rancang bangun (design guidelines) untuk menata keseragaman proporsi fasad ruko, konsistensi garis sempadan bangunan, penataan papan reklame (signage), serta penciptaan frontage komersial aktif selebar 2,0–3,0 meter dengan bukaan transparan yang menghidupkan interaksi ruang kota.

Sebagai penegas fungsi Gateway (Pintu Gerbang) Kabupaten Deli Serdang, Dr. Achmad Delianur juga menampilkan dua rancangan penanda kawasan (landmark) ikonik. Pertama, gapura dan landmark batas wilayah membentang megah, memadukan material batu alam, metal finishing, pencahayaan LED arsitektural, dan panel dekoratif bermotif Melayu. Kedua, konsep roundabout dan tugu penanda kawasan di simpang akses pintu tol Semayang yang mempertemukan arus pergerakan regional dari arah Gerbang Tol Semayang (utara), Kota Medan (timur), dan Kota Binjai (barat). Dirancang agar aman bagi manuver kendaraan logistik berukuran besar, tugu ini mengadopsi bentuk filosofis Pucuk Tunas yang melambangkan pertumbuhan, kemajuan, dan harapan masa depan Kabupaten Deli Serdang yang berpadu harmonis dengan ornamen Melayu serta taman tematik tropis.
Melalui sinergi keilmuan antara perencanaan wilayah dan kota serta arsitektur rancang kota ini, dokumen kajian pengembangan Kecamatan Sunggal tidak hanya menjadi instrumen teknokratis bagi Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi intelektual FT USU dalam mengawal pembangunan kawasan metropolitan yang produktif secara ekonomi, berkarakter budaya lokal, adil secara spasial, dan tangguh menghadapi ancaman bencana.