home icon
search icon
menu icon

Tentang

Program Sarjana Teknik Industri

Program Sarjana (S-1) Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (USU) menawarkan pendidikan yang komprehensif dalam bidang rekayasa industri. Mahasiswa akan mendalami konsep-konsep dasar teknik industri, seperti perancangan sistem produksi, manajemen operasi, perencanaan produksi, dan rekayasa kualitas. Selain itu, mereka juga akan mempelajari tentang teknologi informasi dalam konteks industri, analisis biaya, serta strategi pengelolaan rantai pasokan.

Dengan kurikulum yang komprehensif, didukung oleh fasilitas laboratorium modern dan kerja sama dengan industri terkemuka, serta dosen-dosen yang berkualitas pula, lulusan program studi ini akan akan siap untuk mengambil peran penting dalam mengoptimalkan proses produksi, meningkatkan efisiensi operasional, dan menciptakan nilai tambah dalam berbagai sektor industri.

Program Sarjana Teknik Industri
ornament

Sejarah

1963

Departemen Teknik Industri di Fakultas Teknik USU Medan seyogianya sudah dibuka pada tahun 1963 sebagaimana direncanakan oleh para pemrakarsa yang diketahui oleh Ir. Edward Parmonangan Hutapea dan Ir. Toga Siregar sebagai anggota. Berhubung masih banyak persiapan yang belum rampung, terutama ketersediaan dosen, maka rencana pembukaan ditangguhkan.

Februari 1965

Penundaan berlanjut hingga tahun 1965 dan pada pertengahan tahun tersebut sesuai hasil rapat Dewan Dosen Fakultas Teknik USU pada awal Februari 1965 dibawah pimpinan Dekan Fakultas Teknik USU Ir. M. Sipahutar, Departemen Teknik Industri secara resmi dibuka dan menjadi Departemen Teknik Industri PERTAMA di Indonesia. Hasil rapat Dewan Dosen tersebut juga dinyatakan bahwa Departemen Teknik Industri yang akan dibuka memiliki kurikulum yang berintikan teknologi, chemical engineering dan scientic management.

Juni 1965

Menindaklanjuti hasil rapat Dewan Dosen tersebut, maka pada tanggal 10 Juni 1965 dibawah pimpinan Ir. Andar Manik selaku coordinator pemerakarsa menyanggupi pembukaan Departemen Teknik Industri secara resmi di Fakultas Teknik Industri Universitas Sumatera Utara. Untuk mendapatkan pedoman dan arah yang lebih jelas dari Departemen yang baru dibuka tersebut maka para pemerakarsa ditugaskan ke ITB untuk melakukan studi banding serta konsultasi dengan beberapa dosen senior ITB antara lain Dr. Ir. Mathias Aroef M.Sc, Dr. Ir. Kho Khian Ho, Dr. Ir. Saswinadi, Dr.Ing. K.T. Sirait dan Ir. Suhadi Reksowardoyo.

Agustus 1965

Jumlah mahasiswa yang diterima pertama kali berdasarkan hasil seleksi pada awal bulan Agustus 1965 ialah 72 orang dari jumlah peserta ujian sebanyak 100 orang. Beberapa diantara mereka yang dikenal sebagai mahasiswa angkatan pertama Departemen Teknik Industri ialah Suhaimi Simatupang, Sukaria Sinulingga, Tanib Sembiring, Maringan Napitupulu, Kerno Sinuraya, Hasan Basri Siregar, Abdul Jabbar Rambe, dan Sondang Sitorus.

September 1965

Tujuan pendidikan Teknik Industri dinyatakan secara jelas yaitu mendidik mahasiswa untuk menghasilkan sarjana strata-1 yang memiliki keahlian/ keterampilan di berbagai sektor khususnya di sektor industri manufaktur dan jasa. Menurut Ir. Edward Parmonangan Hutapea (beliau lebih dikenal sebagai Ir. E.P. Hutapea), kata “industri” dalam istilah teknik industry berasal dari kata “industrious” yang arrtinya rajin. “Saudara-saudara akan di didik menjadi sarjana teknik industry yaitu orang yang memiliki kemampuan berpikir industrial dan industrious” demikian dikatakan beliau dalam pengarahannya ketika menyambut kuliah perdana pada awal bulan September 1965.

1967

Ir. Atastina Sri Basuki memutuskan untuk beralih status kepegawaian menjadi dosen tetap USU yang berkedudukan di Departemen Teknik Industri. Dengan demikian, Ir. Atastina Sri Basuki adalah dosen tetap pertama dari Departemen Teknik Industri USU.

1968

Ir. Pangestu Sugondo seorang pimpinan dari Perusahaan Negara Pantja Niaga berhasil direkrut oleh Ketua Departemen Teknik Industri menjadi dosen tidak tetap. Beliau adalah lulusan Teknik Kimia ITB dan Master of Science dalam Industrial Engineering dari Georgia Institue of Technology. Kehadiran beliau di Teknik Industri USU sangat bermanfaat karena beliau tidak hanya memberi kuliah tetapi juga mereformasi kurikulum secara bertahap sehingga mendekati kurikulum Teknik Industri yang standar. Beliau memberi kuliah dalam mata pelajaran Manajemen Produksi, Ekonomi Teknik, dan Tata Letak Pabrik. Dua mata pelajaran yang disebutkan pertama dilakukan sebagai koreksi atas mata pelajaran yang sama yang diberikan sebelumnya oleh dosen yang tidak berlatar belakang Teknik Industri. .

1969

Tahun 1969, seorang dosen muda lulusan Teknik Kimia ITB bernama Ir. Parhimpunan Siregar bergabung lagi dan kemudian diangkat oleh Ir. E.P. Hutapea menjadi Sekretaris Departemen yang sebelumnya tidak pernah ada. Keberadaan Ir. Parhimpunan Siregar tidak berlangsung lama karena beliau mendapat pekerjaaan baru di luar universitas. Pada pertengahan tahun 1969, Fakultas Teknik USU telah memiliki gedung baru di Kampus USU yang berlokasi di Padang Bulan Medan. Beberapa fakultas yang sudah duluan masuk ke dalam Kampus USU ialah Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran. Walaupun Fakultas Teknik telah berpindah ke Kampus Padang Bulan, hanya kegiatan administrasi yang dapat berjalan karena penataan ruang bangunan untuk masing-masing kegiatan akademik pada setiap Departemen belum selesai. Sehubungan dengan itu , kegiatan perkuliahan di Jl. Gandhi dan Jl. Sun Yat Sen masih tetap dilakukan.

1970

Sepeninggal Ir. Parhimpunan Siregar awal tahun 1970 bergabung pula Ir. Tabas Pandia mantan Direktur Utama PN Mekatani yang kemudian mendampingi Ir. E.P. Hutapea sebagai Sekretaris Departemen. Pada awal tahun 1970 kegiatan akademik secara bertahap sudah terselenggara di Kampus USU termasuk kegiatan seleksi penerimaan mahasiswa baru. Sejalan dengan kegiatan perkuliahan di gedung baru tersebut maka beberapa laboratorium sudah mulai di miliki oleh Departemen Teknik Industri dan beroperasi antara lain Laboratorium Kimia Dasar dan Kimia Analitik. Hingga akhir tahun 1970, semua kegiatan akademik Fakultas Teknik sepenuhnya sudah berada di Kampus USU. Gedung perkuliahan di Jn. Gandhi 52 kemudian beralih fungsi menjadi tempat tinggal beberapa dosen dan gedung di Jl. Sun Yat Sen diserahkan kembali ke penguasa militer.

Februari 1970

Sehubungan dengan masih terbatasnya sarana laboratorium yang dimiliki dan juga untuk pematangan wawasan mahasiswa sebelum penyelesaian studi di Teknik Industri Fakultas Teknik USU, maka pimpinan Departemen membuat ketentuan bahwa setiap mahasiswa harus mengikuti sebagian kegiatan akademik di ITB atas biaya sendiri.Pemberangkatan pertama dilakukan pada bulan Februari tahun 1970 dengan menumpang kapal barang Kurnia. Selain peraktikum, para mahasiswa diberikan berbagai kuliah tambahan oleh dosen-dosen ITB antara lain oleh Ketua Departemen Teknik Kimia, Dr. Ir. Saswinadi, Ir. Wibowo dan Ir. Parkesit. Seluruh kegiatan di ITB berlangsung hingga bulan April. Pemberangkatan mahasiswa ke ITB berlangsung hingga 4 periode dan dihentikan karena laboratorium Satuan Operasi dengan fasilitas yang cukup lengkap telah tersedia di Departemen Teknik Industri USU.

1971

Pada tahun 1971, Departemen Teknik Industri memanfaatkan Dr. Ir. Sawinadi dari Teknik Kimia ITB sebagai dosen terbang untuk berbagai kegiatan seperti memberikan kuliah khusus, membimbing mahasiswa dalam pengerjaan tugas akhir dan juga menjadi penguji di Sidang Ujian Sarjana. Atas prakarsa Dr. Ir. Sawinadi, praktikum Satuan Operasi dapat dilakukan di ITB. Selain Dr. Ir. Saswinadi beberapa dosen terbang lain yang berjasa dalam membina dan mengembangkan Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik USU ialah Ir. M. Faisal MSc, Dr. Prastowo Nambar MSc, dan Dr. Ir. Harsono Taroepratjeka MSc. ketiganya dari Teknik Industri ITB.

1978

Dr. Ir. Harsono Taroepratjeka yang bergabung di Departemen Teknik Industri tahun 1978 tidak hanya memberi kuliah dan menjadi dosen penguji tetapi belakangan dimohon menjadi Ketua Departemen Teknik Industri. Kehadiran Dr. Ir. Harsono Taroepratjeka MSc sebagai Ketua Departemen Teknik Industri USU semakin memantapkan penyelenggaran berbagai kegiatan akademik termasuk pengembangan kurikulum, penataan sidang ujian sarjana serta pematangan diri dosen muda agar berkembang menjadi dosen yang handal.

1981

Ditjend Dikti memanggil para Ketua Departemen dan utusan dari semua Departemen di Fakultas Teknik Negeri seluruh Indonesia untuk bermusyawarah di Bandung tentang kurikulum dalam upaya menetapkan kurikulum nasional (Kurnas). Musyawarah nasional tersbut berhasil merumuskan kurikulum nasional sebagai ciri pendidikan tinggi keteknikan. Setiap Departemen kemudian dapat melengkapi kurikulum tersebut dengan muatan lokal yang disesuaikan dengan potensi wilayah masing-masing.

Desember 1983

Pada tahun 1983 berdasarkan Surat Keputusan Menteri P dan K dengan No. 0174/O/1983, tanggal 14 Maret 1983 dan No. 0535/O/1983 tanggal 8 Desember 1983, nama Departemen Teknik Industri berubah menjadi Departemen Teknik dan Manajemen Industri. Sejalan dengan perubahan nama tersebut maka dilakukan pula penyesuaian kurikulum dengan penambahan mata pelajaran manajemen dengan jumlah SKS yang semakin besar.

Juli 1995

Pada tahun 1995 berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud No. 0218/U/1995 tanggal 25 Juli 1995, nama Departemen Teknik dan Manajemen Industri dirubah lagi dan disebut Departemen Teknik Industri dengan sebuah program studi yaitu Program Studi Teknik Industri. Program Studi Teknik Kimia memisah diri karena dipandang telah mampu mengelola diri sebagai Departemen Teknik Kimia. Dengan pemisahan diri tersebut maka dosen-dosen Program Studi Teknik Industri yang berlatar belakang teknik kimia seperti Ir. Merek Sembiring, Ir. Halomoan Sitorus dan beberapa alumni Teknik Industri menjadi dosen tetap di Departemen Teknik Kimia.

ornament

Visi & Misi

ornament

Tujuan & Sasaran

ornament

Struktur Organisasi

Bagan Struktur Organisasi