Medan, 13 September 2026 I Setiap kali hujan deras mengguyur Kota Medan, pertanyaan yang muncul hampir selalu sama: ke mana air harus dialirkan?

Selama ini jawabannya adalah saluran drainase, sungai, kolam retensi, atau badan air lainnya. Pendekatan tersebut tetap penting. Namun, persoalan muncul ketika permukaan kota semakin tertutup beton dan aspal, sementara ruang untuk memperlebar saluran semakin terbatas.

Mungkin sudah saatnya kita melihat persoalan banjir dari arah yang berbeda: bukan hanya mengalirkan air secara horizontal, tetapi juga mengelolanya secara vertikal.

Gagasan inilah yang dapat dikembangkan melalui Medan Vertical Drainage System (MVDS), yaitu sistem drainase vertikal yang memanfaatkan lapisan akuifer tertentu sebagai media penerima limpasan hujan yang telah melalui proses pengolahan.

Gagasan ini dapat diwujudkan melalui sumur imbuhan dalam atau groundwater recharge well. Prinsipnya bukan membuang air banjir ke dalam tanah, melainkan menangkap sebagian limpasan, mengolahnya, kemudian memasukkannya ke lapisan akuifer yang sesuai.

Konsep ini relevan dengan kondisi Medan. Penelitian mengenai groundwater recharge di Kota Medan telah menunjukkan potensi pemanfaatan sumur imbuhan untuk mengurangi genangan. Salah satu kajian yang pernah dilakukan oleh Dosen Fakultas Teknik USU di kawasan Bandar Selamat memperhitungkan limpasan sekitar 1.008 liter per detik, sementara kapasitas saluran sekitar 886 liter per detik. Selisih debit tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi tertentu terdapat limpasan yang tidak mampu ditampung sistem drainase eksisting.

Di sinilah drainase vertikal dapat mengambil peran.

Secara konseptual, sebuah sumur berdiameter tertentu dapat ditempatkan pada kawasan yang berulang kali mengalami genangan. Sumur tidak perlu dibuat dengan kedalaman yang seragam. Pemboran harus menembus lapisan bawah permukaan berdasarkan hasil investigasi geologi dan hidrogeologi, kemudian diarahkan menuju lapisan permeabel, seperti pasir atau kerikil, yang memiliki kemampuan menerima air.

Ilustrasi konsep drainase vertika ( sumber: desain gambar chatgpt)

Pada interval akuifer tersebut dapat dipasang screen atau pipa berlubang yang dikelilingi gravel pack. Air yang telah melalui proses prapengolahan kemudian masuk ke formasi permeabel dan menyebar melalui ruang antar butir. Dengan pendekatan ini, sebagian air hujan tidak langsung menjadi limpasan permukaan, tetapi kembali masuk ke sistem air tanah.

Konsep semacam ini secara ilmiah dikenal sebagai enhanced aquifer recharge atau managed aquifer recharge. U.S. Environmental Protection Agency menjelaskan bahwa stormwater dapat dimanfaatkan untuk mengisi kembali akuifer melalui berbagai infrastruktur, termasuk dry well, infiltration gallery, dan injection well. Namun, keberhasilan sistem sangat bergantung pada kondisi geologi dan hidrogeologi lokal, potensi penyumbatan, karakteristik penggunaan lahan, serta kualitas air yang dimasukkan ke bawah tanah

Namun, keberhasilan teknologi ini tidak ditentukan oleh diameter atau kedalaman sumur semata. Parameter terpenting adalah kemampuan akuifer menerima air. Karena itu, setiap lokasi harus terlebih dahulu dikaji menggunakan survei geolistrik, pengeboran uji, well logging, pengukuran muka air tanah, pengujian permeabilitas, dan aquifer test. Hasil kajian tersebut menentukan lokasi, kedalaman, interval screen, serta jumlah sumur yang layak dibangun.

Aspek yang lebih penting adalah kualitas air. Air limpasan perkotaan dapat membawa sedimen, minyak, logam, bahan organik, dan berbagai kontaminan. Memasukkan air yang tercemar secara langsung ke akuifer justru dapat menciptakan masalah lingkungan yang lebih serius. Karena itu, sistem harus memiliki rangkaian tangkap, olah, dan imbuhkan. Air dikumpulkan dari kawasan genangan, melewati bak pengendap dan sistem filtrasi atau prapengolahan, kemudian dialirkan ke sumur imbuhan.

Drainase vertikal bukan pengganti saluran drainase, sungai, atau kolam retensi. Ia merupakan lapisan tambahan dalam sistem pengendalian banjir perkotaan. Saluran tetap mengalirkan air, kolam retensi menahan debit puncak, sedangkan sumur imbuhan mengurangi sebagian limpasan dan sekaligus berpotensi meningkatkan imbuhan air tanah.

Kota Medan dapat memulai pendekatan ini melalui proyek percontohan pada beberapa titik genangan prioritas. Setiap lokasi dipilih berdasarkan luas daerah tangkapan, karakteristik genangan, kondisi drainase, litologi bawah permukaan, muka air tanah, dan kapasitas akuifer. Kinerja sumur kemudian dipantau berdasarkan debit masuk, waktu infiltrasi, perubahan muka air tanah, serta kualitas air.

Gagasannya sederhana, tetapi paradigma yang ditawarkan cukup penting: air hujan tidak selalu harus dipindahkan sejauh mungkin dari kota. Sebagian dapat dikelola di tempat, dibersihkan, dan dikembalikan secara terkendali ke dalam sistem hidrogeologi.

Sudah saatnya Kota Medan tidak hanya membangun drainase untuk mengalirkan banjir, tetapi juga membangun drainase vertikal untuk mengelola air hujan dari permukaan hingga ke bawah permukaan tanah.