Secara umum Kebakaran terjadi ketika tiga unsur utama yaitu “segitiga api” saling bertemu, meliputi : bahan bakar (fuel), panas (heat), dan oksigen (oxygen). Dalam teori tetrahedron api, ditambah unsur keempat yaitu reaksi berantai kimia.

Pemicu kebakaran adalah kondisi atau sumber energi yang menyebabkan bahan yang mudah terbakar mencapai temperatur atau kondisi penyalaan. Tentu pemicu berbeda dengan bahan bakar. Bahan bakar menyediakan material yang terbakar, sedangkan pemicu menyediakan energi awal untuk memulai pembakaran.

Memadamkan api berarti memutus salah satu atau lebih unsur tersebut melalui pendinginan, penyelimutan (mengurangi oksigen), penghilangan bahan bakar, atau pemutusan reaksi berantai.

Dry Chemical Powder (DCP) konvensional, terutama jenis ABC berbasis monoammonium phosphate (MAP), bekerja terutama dengan memutus reaksi berantai dan melapisi bahan bakar. Namun, DCP memiliki kekurangan: residu kotor, bersifat sedikit korosif, dan tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, muncul gagasan memanfaatkan bahan lokal dan biodegradable seperti cassava flour (tepung singkong atau tepung tapioka yang berasal dari umbi Manihot esculenta).

Melalui artikel ini mencoba membahasnya secara ilmiah, potensi, mekanisme, bukti riset, keterbatasan, dan prospek cassava flour sebagai media pemadam, berdasarkan prinsip kebakaran dan data penelitian yang tersedia.

Edi Yasa Ardiansyah, dosen Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik USU, menyusun tinjauan ilmiah mengenai kemungkinan pemanfaatan cassava flour atau tepung singkong dalam teknologi pemadaman kebakaran.

Kajian menjelaskan bahwa Cassava flour bukan pengganti langsung Dry Chemical Powder. Namun, sebagai bahan dasar yang murah, melimpah di Indonesia, dan biodegradable, pati singkong (terutama dari limbah kulit) memiliki potensi ilmiah untuk dikembangkan menjadi media pemadam alternatif atau komplementer melalui formulasi yang tepat—misalnya dicampur retardant, diolah menjadi gel, atau dijadikan matriks char-forming. Tentunya Pengembangan lebih lanjut memerlukan Riset sistematis (uji kinerja api, toksisitas, stabilitas), Kolaborasi antara peneliti, industri, dan lembaga standar (BSN, BRIN) dan Uji lapangan terkontrol, khususnya untuk aplikasi karhutla skala kecil hingga menengah.

Melalui pendekatan ilmiah yang hati-hati, inovasi berbasis cassava flour dapat menjadi kontribusi lokal yang mendukung prinsip pemadaman api sambil mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Hingga saat ini, bukti terbaik menunjukkan bahwa keberhasilan bergantung pada modifikasi dan kombinasi, bukan pada tepung singkong murni. Dari Hal ini, Tentu menjadi suatu tantangan dan peluang tersendiri bagi kita untuk memberikan solusi.

Kegiatan komunikasi berbasis sains ini paling kuat mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas karena membantu publik memahami peluang dan risiko inovasi secara kritis. Potensi pengembangan material lokal berkaitan dengan SDG 9, sedangkan orientasi pada penanganan kebakaran dan pengurangan ketergantungan bahan sintetis memiliki relevansi dengan SDG 13.

FT USU menegaskan pentingnya kehati-hatian ilmiah dalam menilai inovasi keselamatan. Kolaborasi peneliti, industri, dan lembaga standardisasi diperlukan agar pengembangan bahan berbasis singkong berlangsung aman, terukur, dan tidak mendahului bukti.