Medan - 03 November 2026, Sultan Deli XIV, Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alamsyah, hadir sebagai dosen tamu di Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik USU. Kuliah tamu ini diikuti oleh mahasiswa Program Sarjana melalui mata kuliah Arsitektur dan Masyarakat serta mahasiswa Program Magister melalui mata kuliah Arsitektur Vernakular, yang keduanya diampu oleh Dr. Salmina Wati Ginting, ST., MT.

Mengangkat topik “Revitalisasi Istana Maimun”, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai sejarah, nilai arsitektur, dan upaya pelestarian salah satu warisan budaya paling penting di Kota Medan dari perspektif Kesultanan Deli.

Dalam pemaparannya, Sultan Deli XIV mengisahkan perjalanan panjang pembangunan Istana Maimun, mulai dari latar belakang sejarah hingga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Pembangunan istana dimulai pada 26 Agustus 1888 atas prakarsa Sultan Deli IX, Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, dan diselesaikan serta diresmikan pada 18 Mei 1891. Istana ini menjadi salah satu penanda penting perkembangan Kesultanan Deli sekaligus representasi perjalanan sejarah dan kebudayaan Melayu di Sumatera Timur.

Secara arsitektural, Istana Maimun memperlihatkan perpaduan berbagai pengaruh budaya, terutama Melayu, Islam, dan Eropa. Perpaduan tersebut terlihat pada tata ruang, bentuk bangunan, ornamen, serta berbagai elemen arsitektural yang membentuk karakter khas istana. Keberadaan unsur-unsur tersebut memperlihatkan bagaimana arsitektur menjadi ekspresi dari interaksi budaya, kekuasaan, dan perubahan sosial pada masanya.

Sultan juga menguraikan konteks sejarah yang melatarbelakangi perkembangan Kesultanan Deli pada abad ke-19, khususnya hubungan antara Kesultanan Deli dan pemerintah kolonial Belanda dalam perkembangan perkebunan tembakau. Pada masa pemerintahan Sultan Deli VIII, Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah (1858–1873), dirintis kerja sama dengan pihak kolonial dalam pembukaan perkebunan tembakau di wilayah Deli. Perkembangan industri tembakau yang kemudian dikenal luas di pasar internasional membawa perubahan besar terhadap kondisi ekonomi, politik, dan lanskap wilayah Sumatera Timur.

Transformasi tersebut berlanjut pada masa pemerintahan Sultan Deli IX, Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Perkembangan ekonomi perkebunan turut menjadi bagian dari konteks perpindahan pusat pemerintahan Kesultanan dari Labuhan Deli ke Medan dan pembangunan Istana Maimun. Dengan demikian, sejarah istana tidak dapat dipisahkan dari dinamika perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang turut membentuk perkembangan Kota Medan.

Saat ini, Istana Maimun tengah menjalani revitalisasi dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Upaya revitalisasi ini merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya, tidak hanya melalui pemeliharaan kondisi fisik bangunan, tetapi juga melalui pelestarian nilai sejarah, karakter arsitektur, dan identitas budaya yang melekat pada istana.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diajak memahami bahwa revitalisasi bangunan bersejarah tidak semata-mata merupakan pekerjaan perbaikan fisik atau pemulihan estetika bangunan. Lebih dari itu, revitalisasi merupakan proses menjaga hubungan antara warisan arsitektur, sejarah, identitas budaya, dan masyarakat yang mewarisinya. Perspektif tersebut menjadi penting dalam pembelajaran arsitektur, khususnya dalam memahami bangunan vernakular dan hubungan timbal balik antara arsitektur dan masyarakat.

Kehadiran Sultan Deli XIV dalam kegiatan akademik ini sekaligus memperkuat dialog antara institusi Kesultanan dan dunia pendidikan. Pengetahuan sejarah yang disampaikan langsung oleh pewaris Kesultanan sejalan dengan SDG 4 dan SDG 11, memberikan dimensi pembelajaran yang berbeda bagi mahasiswa, karena mereka tidak hanya mempelajari warisan arsitektur melalui literatur dan dokumentasi, tetapi juga memperoleh perspektif dari pihak yang memiliki keterikatan historis dan kultural dengan warisan tersebut.

Prodi S1 dan S2 Arsitektur USU berharap kegiatan ini dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai sejarah dan arsitektur lokal, meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya Sumatera Utara, serta mendorong keterlibatan generasi muda dalam upaya pelestarian dan pengembangan warisan arsitektur untuk masa depan.