MEDAN, 12 September 2026 | Warga Masyarakat Sumatera Utara dihimbau perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada akhir 2026 hingga awal 2027. Hujan deras dapat meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang hingga banjir terutama di kawasan pesisir.

Imbauan tersebut disampaikan Edi Yasa Ardiansyah, S.T., M.T., dosen Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU). Menurutnya, masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus meningkatkan kesiapsiagaan dengan mengikuti perkembangan informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Hujan bukanlah bencana. Namun, hujan dengan intensitas tinggi, terutama jika berlangsung dalam waktu singkat atau terus-menerus, dapat menjadi pemicu banjir dan longsor pada wilayah yang rentan," ujar Edi.

Data BMKG menunjukkan kondisi curah hujan di Sumatera Utara tidak sama pada setiap wilayah. Pada Oktober 2026, sebagian besar wilayah diprediksi berada pada kategori curah hujan 100 sampai 300 milimeter per bulan, termasuk Kota Medan, Deli Serdang, Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan dan Asahan.

Sementara itu, sejumlah wilayah diprediksi memiliki curah hujan lebih tinggi, yaitu 300 sampai 500 milimeter per bulan. Wilayah tersebut antara lain Nias Utara, Nias Barat, Nias, Gunungsitoli, Langkat, Dairi, Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah dan Humbang Hasundutan.

Pada November 2026, sebagian besar wilayah Sumatera Utara kembali diprediksi berada pada kisaran 100 sampai 300 milimeter per bulan. Namun, beberapa wilayah seperti Dairi, Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, Nias Utara, Nias Barat, Nias dan Nias Selatan diprediksi berada pada kisaran 300 sampai 500 milimeter per bulan.

Edi mengingatkan bahwa angka curah hujan bulanan tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran risiko bencana.

"Yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah hujan dalam satu bulan, tetapi juga seberapa deras hujan turun dalam beberapa jam, berapa lama hujan berlangsung, kondisi tanah dan kemampuan lingkungan menampung air," jelasnya.

Untuk kawasan Kota Medan dan dataran rendah, ancaman utama yang perlu diwaspadai adalah banjir dan genangan akibat hujan deras, kapasitas drainase yang terbatas serta luapan sungai. Sementara daerah pegunungan seperti Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal perlu lebih waspada terhadap longsor dan banjir bandang.

Kawasan pesisir seperti Belawan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, Batubara dan Asahan juga perlu memperhatikan potensi banjir pesisir, pasang laut, angin kencang dan gelombang tinggi.

Menurut Edi, masyarakat harus mengubah pola pikir dari menunggu bencana menjadi melakukan tindakan sebelum bencana terjadi.

"Ketika BMKG mengeluarkan peringatan dini, masyarakat harus segera bertindak. Bersihkan drainase, amankan dokumen penting, hindari daerah rawan, pantau kondisi sungai dan ketahui jalur evakuasi," katanya.

Ia menambahkan, perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam membantu pemerintah melalui penyebaran informasi, penelitian, pemetaan risiko, pemodelan banjir dan longsor serta pengembangan sistem peringatan dini.

"Kita tidak dapat menghentikan hujan, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya melalui ilmu pengetahuan, teknologi dan kesiapsiagaan masyarakat," tegas Edi.

Masyarakat Sumatera Utara diharapkan tetap tenang, tetapi tidak lengah. Kenali risikonya, pantau informasi BMKG, siapkan keluarga dan bertindak sebelum bencana terjadi.