MEDAN, 20 September 2026 | Cuaca di sejumlah wilayah Sumatera Utara diprakirakan masih berubah-ubah hingga akhir September 2026. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masyarakat perlu mewaspadai hujan ringan, hujan disertai petir, petir, angin kencang, serta periode kondisi udara yang lebih kering.
BMKG dalam prakiraan periode 18 hingga 24 September 2026 menyebut Sumatera Utara sebagai salah satu wilayah yang perlu mewaspadai peningkatan hujan. Pada 18 hingga 20 September, beberapa wilayah berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang. Potensi peningkatan hujan masih perlu diperhatikan pada 21 hingga 24 September.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa cuaca Sumatera Utara memiliki karakter yang dinamis. Meskipun pengaruh El Niño masih mendukung kondisi atmosfer yang relatif kering di sejumlah wilayah, dinamika atmosfer lokal dan regional tetap dapat memicu hujan dengan intensitas tinggi secara lokal.
Cuaca Berbeda Antardaerah
Prakiraan BMKG menunjukkan perbedaan kondisi cuaca antarwilayah.
Di Medan dan Deli Serdang, hujan ringan berpotensi terjadi pada 20 hingga 22 September. Kondisi berkabut atau berasap diprakirakan pada 23 September, kemudian potensi petir pada 24 September. Hujan ringan kembali berpeluang terjadi pada 25 September dan 28 hingga 29 September.
Binjai diprakirakan mengalami hujan ringan pada 20 hingga 22 September, hujan disertai petir pada 23 September, dan petir pada 24 September. Sementara itu, Karo memiliki suhu yang lebih rendah, sekitar 19 hingga 27°C, dengan potensi hujan dan petir pada beberapa hari.
Di Simalungun dan Pematangsiantar, hujan ringan berpotensi terjadi pada 20 hingga 23 September, kemudian petir pada 24 September. Hujan disertai petir kembali berpotensi terjadi pada 27 September.
Wilayah pesisir timur seperti Serdang Bedagai, Batu Bara, dan Tanjung Balai juga menunjukkan variasi cuaca, mulai dari hujan ringan hingga potensi petir. Di kawasan Samosir dan Danau Toba, suhu dapat berada pada kisaran 17 hingga 25°C dengan peluang hujan dan petir pada beberapa hari.
Di pantai barat, Tapanuli Tengah dan Sibolga juga perlu memperhatikan potensi petir. Sementara itu, wilayah selatan seperti Padangsidimpuan dan Mandailing Natal, serta Kepulauan Nias dan Gunungsitoli, juga menunjukkan potensi perubahan cuaca dan petir.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya menggunakan informasi cuaca tingkat provinsi. Prakiraan lokal dan peringatan dini perlu diperhatikan sebelum melakukan aktivitas.
Risiko Bencana Hidrometeorologi
Hujan dan petir tidak berarti bencana pasti terjadi. Namun, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko apabila bertemu dengan kerentanan lingkungan dan infrastruktur.
Hujan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat menyebabkan genangan dan banjir, terutama di kawasan perkotaan dengan permukaan kedap air tinggi dan sistem drainase yang terbatas.
Di kawasan perbukitan dan pegunungan, hujan dapat meningkatkan kejenuhan tanah sehingga risiko longsor perlu diperhatikan, terutama pada lereng curam, kawasan dengan perubahan tutupan lahan, atau lokasi yang telah menunjukkan retakan.
Potensi petir dan angin kencang juga perlu diwaspadai. Masyarakat yang berada di ruang terbuka sebaiknya segera mencari tempat yang aman ketika terdengar guntur. Berteduh di bawah pohon perlu dihindari.
Pada sisi lain, kondisi atmosfer yang lebih kering tetap meningkatkan perhatian terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, masyarakat perlu menghindari pembakaran sampah maupun pembukaan lahan menggunakan api.
Perguruan Tinggi Memiliki Peran Strategis
Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan risiko bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan solusi yang dapat diterapkan di lapangan.
Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT USU) memiliki berbagai bidang keilmuan yang relevan dengan persoalan tersebut.
Teknik Lingkungan dapat berkontribusi melalui kajian drainase, pengelolaan air hujan, kualitas air, pencemaran, serta pengelolaan lingkungan pascabanjir.
Teknik Sipil dan Perencanaan Wilayah dan Kota dapat berperan dalam perencanaan dan evaluasi berbagai infrastruktur seperti kondisi kewilayahan, drainase, jalan, jembatan, serta bangunan yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem.
Teknik Pertambangan dan bidang geoteknik dapat mendukung kajian kestabilan lereng, karakteristik tanah dan batuan, serta pemetaan daerah rawan longsor.
Sementara itu, Teknik Elektro dan bidang teknologi digital dapat mengembangkan sistem pemantauan berbasis sensor, Internet of Things (IoT), dan sistem peringatan dini untuk mendeteksi perubahan curah hujan, tinggi muka air, kelembapan tanah, maupun kondisi lingkungan secara lebih cepat.
Pendekatan lintas disiplin tersebut dapat menjadikan persoalan cuaca dan bencana sebagai ruang pembelajaran sekaligus penelitian yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Selaras dengan Kampus Berdampak dan SDGs
Peran tersebut sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, yaitu mendorong perguruan tinggi agar pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat mampu menjawab persoalan nyata.
FT USU juga telah mengaitkan berbagai kegiatan akademik dan pengabdian dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Isu cuaca dan bencana memiliki hubungan erat dengan beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan.
SDG 6 berkaitan dengan pengelolaan air dan sanitasi. SDG 9 berkaitan dengan inovasi dan infrastruktur. SDG 11 menekankan pentingnya kota dan permukiman yang berkelanjutan. SDG 13 berfokus pada penanganan perubahan iklim. Sementara SDG 15 berkaitan dengan perlindungan ekosistem daratan.
Dengan demikian, penelitian tentang banjir, longsor, sistem peringatan dini, infrastruktur adaptif, kualitas lingkungan, dan perubahan iklim bukan hanya persoalan akademik, tetapi bagian dari kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Dari Data Cuaca Menjadi Solusi
Data BMKG dapat menjadi titik awal bagi perguruan tinggi untuk membangun sistem pengetahuan yang lebih luas.
Data curah hujan dapat dikombinasikan dengan data topografi, penggunaan lahan, kapasitas drainase, kondisi tanah, dan kejadian bencana. Selanjutnya, data tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan peta risiko, model prediksi, sistem peringatan dini, serta rekomendasi teknis bagi pemerintah dan masyarakat.
Pendekatan seperti ini memperlihatkan bahwa informasi cuaca tidak berhenti pada pertanyaan apakah hari ini akan hujan atau panas. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk merancang infrastruktur yang lebih tangguh, mengurangi risiko bencana, melindungi lingkungan, dan meningkatkan ketahanan masyarakat.
Masyarakat Perlu Tetap Waspada
Masyarakat Sumatera Utara disarankan untuk memeriksa prakiraan dan peringatan dini BMKG sebelum melakukan aktivitas luar ruang. Saluran drainase perlu dijaga agar tidak tersumbat, sedangkan masyarakat yang tinggal di daerah lereng perlu memperhatikan retakan tanah dan perubahan aliran air.
Ketika terjadi petir, masyarakat sebaiknya masuk ke bangunan yang aman dan tidak berteduh di bawah pohon. Pengendara juga perlu mengurangi kecepatan ketika hujan lebat karena jarak pandang dan kondisi jalan dapat berubah dengan cepat.
Pada kondisi yang lebih kering, masyarakat perlu menghemat air dan menghindari pembakaran sampah maupun lahan.
Cuaca Sumatera Utara pada September 2026 menunjukkan bahwa kondisi kering dan hujan intensif dapat muncul dalam periode yang sama. Karena itu, kesiapsiagaan harus dilakukan secara dinamis dan berbasis informasi.
Bagi perguruan tinggi, kondisi ini merupakan momentum untuk memperkuat riset, inovasi, pendidikan kebencanaan, dan pengabdian masyarakat. Bagi FT USU, isu tersebut sekaligus menjadi ruang nyata untuk menerapkan semangat Kampus Berdampak dan SDGs, dengan menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat Sumatera Utara.
Catatan: Prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Masyarakat disarankan mengikuti pembaruan resmi BMKG, termasuk prakiraan harian, peringatan dini, dan informasi nowcasting.